Thursday, January 7, 2010

Bisnis versus Lingkungan, Bisakah Berdamai?

Buat apa mengeluarkan dana besar untuk sesuatu yang tidak memberikan keuntungan? Itu pertanyaan yang kerap dilontarkan para eksekutif perusahaan ketika dihadapkan pada proposal alokasi anggaran untuk pengelolaan lingkungan. Sampai saat ini memang masih banyak eksekutif yang menganggap masalah lingkungan adalah masalah additional (sampingan) yang tidak ada hubungannya dengan kinerja produktif perusahaan, sehingga akhirnya aspek lingkungan termarginalisasikan secara sistematis.

Dalam konteks ekonomi mikro, produktifitas dalam paradigma baru dilihat sebagai sejauhmana perusahaan mampu menjalankan proses produksi dengan efisien sehingga menimbulkan keuntungan finansial dan sekaligus menumbuhkan keuntungan tersebut secara berkelanjutan (sustainable growth).

Dilihat dari sudut pandang lingkungan suatu perusahaan dinilai mampu menjalankan proses produksinya secara efisien jika mampu menekan volume limbah yang dihasilkannya. Limbah adalah by product (sisa raw material dan bahan additive lain) dari suatu proses produksi. Artinya jika perusahaan mampu menekan limbahnya, maka perusahaan tersebut mampu menghemat bahan baku, bahan additive (chemical), penggunaan air, dan energi. Belum lagi penghematan dari pengelolaan limbah sebagai akibat penurunan volume limbah yang diolah.

Ilustrasi sederhana di atas menunjukkan benefit ekonomi dari integrasi aspek lingkungan ke dalam proses produksi. Benefit ekonomi lain adalah menghindari lost of opportunity akibat klaim lingkungan dari masyarakat atau kecelakaan yang terkait dengan limbah, tumpahan (spill) bahan berbahaya dan beracun (B3), cost reduction dari program penghematan konsumsi energi dan air, serta jaminan keberlangsungan proses produksi karena risk management yang sistematis terkait aspek lingkungan.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan, biaya pencegahan tumpahan limbah dan bahan berbahaya beracun (B3) jauh lebih murah dibanding biayapemulihannya, belum termasuk biaya yang ditimbulkan dari lost time incident dan biaya hilangnya bahan baku yang tumpah tersebut.

Untuk mencapai financial benefit dari pendekatan lingkungan ini, sejumlah alat bantu (tools) telah dikembangkan. Life cycle assessment (analisis daur hidup), pollution prevention, cleaner production, design for environment (DFE), industrial ecology, environment performance monitoring, dan environment accounting adalah beberapa di antaranya.

Enviromental accounting merupakan pendekatan praktis yang berupaya mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam proses produksi dengan besaran moneter sebagai indikator keberhasilannya. Selain dapat diaplikasikan pada tingkat korporat (mikro), konsep ini juga dapat diterapkan di tingkat negara (makro) yang lazim disebut Green GDP. Di samping manfaat ekonomi yang dapat langsung diukur dengan besaran moneter, keuntungan lain dari integrasi bisnis dan lingkungan adalah membaiknya image perusahaan, yang berdampak kemungkinan meluasnya kepercayaan customer (ditengah tren masyarakat yang semakin menjadi green consumer) dan pemerintah sebagai bisnis regulator.

Contoh paling sederhana yang ada di sekitar kita adalah sebuah bengkel motor yang telah menerapkan konsep cleaner service (modifikasi dari cleaner production). Di bengkel tersebut kita akan kesulitan untuk menemukan ceceran oil atau bahan hidrokarbon lain yang tertumpah di lantai atau di dinding, padahal pada umumnya image sebuah bengkel adalah lekat dengan tumpahan oli atau produk hidrokarbon lain. Semua sisa produk dan limbah dikelola dengan waste management yang sistematis dan ramah lingkungan. Pelanggan cenderung berlangganan bengkel yang nyaman seperti ini dibanding bengkel konvensional lain.

Pasar modern yang menjanjikan wisata belanja ala pasar tradisional (lengkap dengan tawar menawarnya) Namun dengan suasana yang teratur, bersih, bebas lalat, dan bebas bau merupakan trend yang terus berkembang segmen pasarnya. Pembeli dimanjakan dengan suasana yang menyenangkan yang tidak ditawarkan pasar tradisional yang becek dan bau. Pengelolaan lingkungan dan persampahan yang baik adalah kunci dari semua kisah sukses di atas.

Dua contoh sederhana di atas merupakan contoh nyata bagaimana pengelolaan lingkungan dan manajemen limbah yang baik akan mendatangkan keuntungan ekonomi dan pencitraan yang signifikan.

Jadi, siapa bilang mengelola lingkungan itu mahal?

Wednesday, November 11, 2009

Matikan Satu Lampu, Sayangi Bumi Kita

Banyak orang Jakarta dan sekitarnya beberapa pekan terakhir berteriak kesal kepada penyedia listrik karena adanya pemadaman bergilir. Siapapun yang mengalaminya tentu akan merasakan hal yang sama. Mengapa demikian? Banyak dari kita terutama di kota metropolitan, terbiasa dengan peralatan penunjang hidup berbasis listrik. Penyejuk ruangan, TV, lemari pendingin, dan bahkan kompor listrik. Spektrum peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik ternyata semakin meningkat. Kita mendapatkan listrik dari pembangkit listrik milik negara yang sebagian diantaranya adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Pembangkit ini membutuhkan pasokan batubara untuk memproduksi uap air yang menggerakkan turbin. Menurut Blueprint Pengelolaan Energy Nasional, kontribusi batubara dalam aspek kelistrikan nasional akan terus meningkat dari 19% di tahun 2008 menjadi 35% di tahun 2025. Batubara tampaknya sedang menjadi primadona untuk menopang produksi listrik di Indonesia. Namun tahukah anda bahwa, pembakaran batubara melepas 70% lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibanding gas alam (UNEP, 2008). Dengan kata lain batubara lebih mencemari lingkungan daripada gas alam. Menghemat listrik dengan mematikan lampu, menggunakan jenis lampu yang hemat listrik, tidak hanya menghemat pengeluaran anda, namun juga menyelamatkan lingkungan kita. Dengan mengurangi beban listrik harian kita di rumah, maka pembangkit listrik tidak perlu bekerja terlalu berat yang pada akhirnya membutuhkan lebih banyak bahan bakar, yaitu batubara yang mengemisikan karbondioksida lebih banyak. Konservasi energy sebenarnya hal yang tidak sulit, cukup dengan membiasakan diri dengan mengkonsumsi apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Karena apa yang diinginkan cenderung berlebihan (overwhelming), sehingga mengancam daya dukung lingkungan. Orang cenderung menyalakan lampu dengan sangat terang benderang walupun dengan hanya dengan satu atau dua lampu sudah cukup. Lebih banyak lagi orang yang membiarkan televisi, AC, atau kipas angin menyala padahal tidak ada yang menggunakannya. Orang cenderung menyalakan AC di bawah 20oC padahal cukup dengan kesejukan 25oC. Jadi, mari kita lakukan konservasi energi mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga. Mulai dengan mematikan satu lampu setiap malam selama satu jam, menyetel AC di suhu 25oC. Matikan televisi jika tidak ditonton, dan sebagainya. Sukseskan Earth Hour dengan mematikan satu lampu tanggal 27 Maret 2010 jam 8.30 malam waktu setempat.

Wednesday, September 30, 2009

Indonesia Berduka (lagi)

Setelah baru saja dibulan ramadhan Jawa bagian barat diguncang gempa besar berkekuatan 7,2 skala Richter, giliran Sumatera Barat dikoyak gempa 7,6 skala richter. Diperkirakan ratusan jiwa tewas dan terus bertambah. Tentu saja ini mengundang keprihatinan bangsa yang begitu dalam.

Sebagai bangsa yang berada di lingkungan "ring of fire", di jalur patahan subduksi eurasia dan austronesia, resiko gempa adalah sesuatu yang merupakan keniscayaan. Dengan aktifitas gerakan lempeng 5 - 7 cm per tahun, energi yang tersimpan akibat tumbukan ini tentu cukup besar ketika dilepaskan dalam bentuk gempa.

Apa yang konsekuensi logis dari situasi seperti ini? Yang paling utama adalah kesiapsiagaan kita menghadapi gempa. Terlepas dari ketersediaan infrastruktur yang menjadi kewajiban pemerintah, pada tingkat masyarakat dan rumah tangga perlu ditanamkan emergency awareness sehingga jika terjadi gempa tidak perlu ada kepanikan yang berbuah jatuhnya korban akibat situasi panik.

Emergency awareness ini dapat berupa pengetahuan jalur jalur escape yang aman jika terjadi gempa, apa yang harus dilakukan jika berada di ruangan (berbaring disamping benda besar, menghindari barang mudah pecah, dsb), menentukan tempat berkumpul di luar ruangan untuk memudahkan koordinasi, menyiapkan peralatan P3K yang mudah dibawa dan upaya upaya lain.

Managemen bencana adalah hal krusial yang dapat meminimalkan jatuhnya korban dan mempercepat pertolongan yang dibutuhkan. Namun managemen bencana tidak dapat dilakukan tanpa persiapan, perencanaan, pengetahuan yang memadai. Ada baiknya kita mengadopsi sistem manajemen bencana milik Jepang yang juga merupakan daerah rawan gempa.

Dengan demikian, sebagai bangsa yang berada di daerah rawan gempa, kita akan selalu waspada dan terhindar dari kepanikan yang dapat menimbulkan korban baru.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 30, 2008

Dari Pemulung Sampai Enviropreneurship

Jakarta banjir lagi. Sepertinya hampir setiap bulan Februari kita mengalami kejadian seperti ini. Kita seperti tidak belajar dari pengalaman yang lalu sehingga banjir selalu berulang. Sampah, adalah salah satu obyek yang banyak dipersalahkan di samping buruknya implementasi tata ruang. Permasalahannya adalah, mampukah kita mereduksi volume sampah dan bagaimana caranya agar masalah persampahan ini diubah dari beban masyarakat menjadi berkah bagi masyarakat.

Pengelolaan persampahan semula sepenuhnya dilakukan oleh dinas kebersihan kabupaten/kota. Namun keterbatasan sumber daya, makin bertambahnya beban sampah di kota-kota besar sejalan dengan bertambahnya penduduk, tentu menyebabkan daya dukung pelayanan petugas kebersihan menjadi berkurang. Anda bisa bayangkan, tiap harinya, dihasilkan 44,8 ton sampah di Pekan Raya Jakarta 2007 saja. Karena itu tidak heran jika Dinas Kebersihan DKI menargetkan pembatasan jumlah sampah di DKI sampai 6000 ton saja per hari. Suatu upaya yang tidak mudah penerapannya di lapangan. Kini mulai bermunculan pengusaha kecil dan menengah yang secara kreatif menjadikan berbagai hal yang semula tidak terjamah menjadi suatu lahan usaha yang menjanjikan. Di bidang lingkungan, misalnya sekarang bermunculan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang berbasis waste management (pengelolaan sampah).

Keberadaan pengusaha sampah bukan hal yang baru di Indonesia. Sejak dulu kita sudah mengenal pemulung, penampung dan pengumpul barang bekas. Namun sekarang, cakupan dan skala ekonomi pengusaha lingkungan ini makin membesar diiringi dengan makin tingginya knowledge content dan inovasi usahanya. Menurut penelitian, dari 100% sampah yang dihasilkan, 80% sampah masih dapat didaur ulang (recycle), 5% dapat digunakan ulang (reuse), 5% recoverable, sehingga sampah yang benar-benar harus dibuang hanya 10% saja. Artinya jika kita biasa menghasilkan sampah 10 kg/hari, maka yang benar-benar harus dibuang sebenarnya hanya 1 kg/hari. Dampaknya, lahan untuk tempat pembuangan akhir sampah akan berkurang sampai 90%. Stasiun Peralihan Akhir (SPA) Cakung Cilincing, di Jakarta Utara, misalnya dapat menjadi contoh bagaimana bisnis sampah dapat menimbulkan efek berantai yang sangat positif। Dengan mengelola 500 ton sampah per hari, bisnis ini mampu menyerap 250 pekerja। Sedangkan output industri ini yang berupa kompos, material untuk bahan baku semen menjadi input pabrik semen, dan bahan daur ulang seperti bijih plastik yang menjadi bahan baku pabrik plastic menciptakan economic value yang tidak sedikit. Dengan kata lain, industri persampahan semacam ini, merupakan implementasi dari konsep Industrial Ecology dimana terjadi suatu simbiosis mutualisma antara industri di sekitarnya dengan industri persampahan.

Dalam konsep Industrial Ecology, output byproduct berupa sampah/limbah (waste) dari suatu industri merupakan input raw material bagi industri lain, sehingga secara makro prinsip zero waste dapat diterapkan. Konsep ini meniru konsep jaring-jaring makanan (food net) dalam suatu ecosystem. Industrial ecology bersifat proactive, design- in (bukan added on), dan koordinatif. Dalam skala yang lebih advance, di Kalundborg, Denmark, satu kawasan Industrial Ecology telah coba diterapkan. Refinery Statoil menghasilkan gas yang dimanfaatkan oleh Pembangkit listrik Asnaes dan Gyproc, sedangkan steam dari Asnaes dimanfaatkan oleh Novo Nordisk. Prinsip yang sama juga diterapkan pada Tokyo Electric Power Company. Selain pada skala manufaktur, enviropreneurship juga tumbuh dari individual dan kemudian membesar menjadi suatu usaha komunal. Misalnya maraknya pengusaha kompos kering dari daur ulang sampah organik, dan kini muncul pula pengusaha kompos cair yang secara inovatif terus mencari cara baru memproduksi kompos. Ada pula pengusaha yang mencoba membuat plastik ramah lingkungan yang mudah terurai (biodegradable) berbahan baku ekstrak jagung dan penemuan lain yang berprinsip pada Design for Environment.

Bisnis lingkungan dilihat dari segi bussiness opportunity sangatlah prospektif. Tengoklah berapa banyak yang mau bermain di ceruk bisnis lingkungan, karena bisnis ini dipersepsikan bisnis kotor (harfiah, banyak orang yang langsung bergidik mendengar kata bisnis sampah, sebagian karena gengsi). Selain itu, pengetahuan tentang persampahan atau lingkungan belum menjadi ilmu yang umum (common knowledge) walau inipun bisa didapat dengan surfing di internet. Karena itu, envirobussiness merupakan niche tersendiri dalam dunia usaha. Masalahnya bukan mampu atau tidak mampu, melainkan mau atau tidak mau (karena perceived value tadi). Selain itu, walaupun bisnis ini “dijauhi” oleh banyak orang, demand dari produk hasil envirobusiness ini cukup tinggi. Katakanlah bijih plastik, bubur kertas, kaleng bekas, biogas, kompos, bahkan sampah yang tidak bisa direcover bisa dijadikan umpan untuk rotary kiln di industri semen seperti dijelaskan sebelumnya. Jika demand tinggi sedangkan supply minim, bisa dipastikan harga jual akan cukup kompetitif. Karena itu, kenapa tidak mulai dari sekarang kita menggarap ceruk bisnis ini.

Seperti kata iklan, kita untung, lingkungan untung…

Samudra Biru Perekonomian Indonesia

Harga sembako makin mencapai langit langit kemampuan daya beli masyarakat, pedagang daging sapi sampai berdemo di istana karena melambungnya harga, kecelakaan lalulintas akibat banyaknya jalan berlubang dan infrastruktur yang tidak memadai menghiasi media massa nasional. Terlepas dari angka kemiskinan mana yang dipakai, apakah versi Bank Dunia atau BPS, fenomena kemiskinan merupakan kenyataan yang sangat nampak di setiap perempatan jalan yang kita lalui. Pertanyaan yang menggelitik adalah, mengapa selama hampir 10 tahun orde reformasi yang menumbangkan kekuasaan orde baru, lengkap dengan empat presiden hilir mudik di Istana Merdeka, harapan akan kehidupan masyarakat yang lebih baik justru seolah makin menjauh. Apakah ini adalah efek pemberitaan media massa yang di era pers bebas, dengan mudah memberitakan hal buruk yang di masa Orde Baru diharamkan? Atau memang ada peningkatan riil jumlah kemiskinan di masyarakat kita? Jika demikian, apa akar masalahnya? Jika kita coba lihat ke luar (outward looking), kita bisa belajar memetik pengalaman dari negara lain dengan mengkostumisasikan keberhasilan yang dinikmati negara tersebut dengan tetap mencermati permasalahan internalnya.

Malaysia misalnya, sukses memperoleh kemajuan luar biasa dalam pertumbuhan ekonominya. Rahasianya adalah meletakkan stabilitas politik dan keamanan sebagai pondasi pertumbuhan ekonominya, seperti juga diterapkan oleh Singapura, dan China dengan caranya masing-masing. Malaysia dan Singapura memiliki undang undang anti subversi yang dikenal dengan internal security act. Indonesia pernah menerapkan strategi pembangunan berbasiskan stabilitas politik dan keamanan di masa Orba dengan Undang Undang Subversi sebagai penjaminnya. Malaysia dan Singapura, memiliki pemerintahan dari partai yang telah lama berkuasa sejak negara itu merdeka dan secara politik menetapkan single majority sebagai realitas politik yang harus ada. Dengan demikian segala keputusan politik pemerintah di bidang pembangunan akan didukung oleh parlemen. Tidak ada hingar bingar pro kontra di parlemen yang membuat pemerintah ragu untuk bertindak, tidak ada politisi yang ’mbalelo’ keluar dari garis kebijakan partai. Namun demikian, Malaysia bukannya tanpa masalah, keberpihakan kebijakan pemerintah yang cenderung memberi peluang lebih kepada ras melayu telah menaburkan bibit ketidakpuasan di antara masyarakat minoritas di negara multietnis yang suatu saat nanti akan menjadi masalah besar jika nuansa ketidakadilan terus mengemuka. China dan Vietnam juga menerapkan hal serupa. Partai Komunis sebagai pemegang kekuasaan tunggal, menjamin stabilitas negara dengan sikap represif didukung kekuatan militer yang besar.

Menarik untuk dicermati bahwa, investor dari negara-negara kampiun demokrasi seperti Amerika, dan Uni Eropa, lebih mencintai negara-negara represif (demi stabilitas) untuk melakukan investasi daripada ke negara-negara demokrasi. Lihatlah China yang menjadi tujuan investasi favorit dunia. Dengan banyaknya investasi yang ditanam di sana, maka seruan untuk lebih memperhatikan demokrasi dan HAM dari negara-negara besar (yang notabene adalah investornya) akan hanya merupakan lip service, karena justru merekalah yang lebih berkepentingan dengan stabilitas tersebut. Stabilitas ini pulalah yang memungkinkan pemerintah Malysia, Singapura, China dan Vietnam dapat merumuskan visi dan strategi jangka panjangnya (semacam Haluan Negara), sehingga kesinambungan program pembangunan dapat terus dijaga. Ini berbeda dengan Indonesia, dimana pergantian pemerintahan akan diikuti dengan pergantian prioritas dan arah pembangunan (sesuai janji kampanyenya), padahal umur pemerintahan tidak lebih dari lima tahun. Selain itu ada pandangan yang keliru bahwa semua produk pemerintahan lama adalah buruk. Program Posyandu, Keluarga Berencana, dan Swasembada Pangan, misalnya tidak lagi mendapat perhatian serius hanya karena dicap berbau Orba, padahal program ini justru telah teruji keberhasilannya dan mendapat pengakuan dan penghargaan dari badan dunia sekelas WHO dan WFP.

Karena itu, berkaca dari pengalaman tetangga, stabilitas memang dibutuhkan sebagai daya tarik kuat untuk mendatangkan investor. Tapi tentu saja kita tidak mungkin kembali ke zaman stabilitas ala Orba. Dibutuhkan inovasi inovasi baru dalam pengelolaan perekonomian negara. Salah satunya adalah menerapkan strategi Samudra Biru dalam berbagai sektor publik. Dalam bukunya, Blue Ocean Strategy, W Chan Kim dan Renee Mauborgne, membuktikan bahwa strategi ini bukan hanya ampuh untuk sektor industri manufaktur dan jasa, tapi juga sektor publik. New York city tahun 1990-an menghadapi masalah yang mengarah pada anarki di mana tingkat kejahatan ada pada level yang sulit dikendalikan. Hanya dalam waktu dua tahun, setelah menerapkan strategi samudra biru yang intinya adalah penciptaan nilai baru dan tidak menghabiskan waktu dan resources untuk head to head dengan nilai lama, Kepolisian New York (NYPD) mampu menekan tingkat pembunuhan sampai 50 persen, pidana berat turun 39 persen dan kepercayaan publik terhadap NYPD naik 73 persen dari 37 persen. Dalam upaya ini dipelajari bahwa aspek kognitif para pejabat sangat mempengaruhi seberapa kuat sense dan passion mereka dalam menjalankan tugas. Misalnya, seorang pejabat yang bertugas mengatasi banjir akan lebih sungguh-sungguh bekerja keras, jika dia dan keluarga mencoba tinggal beberapa waktu di daerah rawan banjir. Ini penting karena phisical experience akan menjadi suatu driving force yang sangat kuat yang menggerakkan manusia. Bayangkan jika sang pejabat hanya memelototi sederet angka dan statistik banjir tanpa pernah tahu bagaimana menderitanya jadi korban banjir.

Jadi, meningkatkan kinerja perekonomian, tidak selalu harus dengan meningkatkan secara proporsional seluruh sumber daya dan mengakibatkan biaya tinggi. Presiden sebagai CEO hanya perlu me-realokasikan sumber daya tersebut untuk mencapai kinerja optimum masing-masing sektor dengan mengidentifikasi strong point dan weak point dari organisasi negara.

Thursday, October 25, 2007

My First Blood (baca: Blog)

Ini pertama kali gw nulis di blog, dan ini blog pertama gw. Tadinya gw mikir apa gw ga ketuaan bikin blog...kok ekstrovert banget ya kesannya. Tapi belakangan gw tau Yuwono Sudharsono aja punya blog...waaah...panas deh gw. Gw emang dari dulu suka nulis (baca: ngetik) tentang sesuatu, especially tentang lingkungan, management, ekonomi, politik luar negeri dan militer (kok borongan gitu yak??). Yah begitulah...artikel pertama gw di koran yang dimuat Judulnya Management Produktivitas Indonesia, Masihkan punya Visi? (taon 2002). Itu tulisan emang pure ekonomi. Ga ada bau-bau enviro-nya, padahal konon kabarnya gw sekolah di Teknik Lingkungan dan sekarang jadi kerja jadi doktor (ngodok nu kotor kotor, kata orang sunda), just kiddin.... Mungkin anda heran liat minat menulis dengan beragam topik kayak gitu, tapi kalo dipikir (letakkan telunjuk di jidat, please..) apapun pekerjaan yang kita kerjakan(kecuali ngerjain orang) pasti kualitas akhirnya akan tergantung dengan seberapa bagus kita me-manage, seberapa akurat kalkulasi budgeting, dan pasti anda akan butuh lingkungan anda bersih supaya pegawai anda nyaman, bisnis anda lancar tanpa ada gangguan masyarakat gara gara mereka protes limbah B3 anda membuat sungai mereka ga bisa dipake lagi, atau asap cerobong pabrik anda membuat orang kampung sekitar bengek terkekek kekek. Lha trus apa hubungannya dengan militer? Terus terang aja gw juga bingung...Tapi yang jelas, silakan akui aja Riset - Development dunia militer bisa jadi jauh lebih maju dibanding R&D bidang sipil, malah kalo gw liat, teknologi sipil bisa jadi adalah sisa dari teknologi militer yang sudah tidak sensitif lagi. Kekaguman gw misalnya tentang teknologi Gyroscope yang ditanam di misil antar benua sehingga sanggup mempertahankan stabilitas gerakannya mengikuti kontur terestrial. Emang sih teknologi ini masih ketat patennya, dan ga sembarang bisa jatuh ke tangan orang lain. Krn negara - negara besar takut teknologi ini bisa bikin negara-negara yang bukan "sahabat" mereka sanggup bikin rudal sendiri. Wallahualam...