Friday, May 30, 2008

Dari Pemulung Sampai Enviropreneurship

Jakarta banjir lagi. Sepertinya hampir setiap bulan Februari kita mengalami kejadian seperti ini. Kita seperti tidak belajar dari pengalaman yang lalu sehingga banjir selalu berulang. Sampah, adalah salah satu obyek yang banyak dipersalahkan di samping buruknya implementasi tata ruang. Permasalahannya adalah, mampukah kita mereduksi volume sampah dan bagaimana caranya agar masalah persampahan ini diubah dari beban masyarakat menjadi berkah bagi masyarakat.

Pengelolaan persampahan semula sepenuhnya dilakukan oleh dinas kebersihan kabupaten/kota. Namun keterbatasan sumber daya, makin bertambahnya beban sampah di kota-kota besar sejalan dengan bertambahnya penduduk, tentu menyebabkan daya dukung pelayanan petugas kebersihan menjadi berkurang. Anda bisa bayangkan, tiap harinya, dihasilkan 44,8 ton sampah di Pekan Raya Jakarta 2007 saja. Karena itu tidak heran jika Dinas Kebersihan DKI menargetkan pembatasan jumlah sampah di DKI sampai 6000 ton saja per hari. Suatu upaya yang tidak mudah penerapannya di lapangan. Kini mulai bermunculan pengusaha kecil dan menengah yang secara kreatif menjadikan berbagai hal yang semula tidak terjamah menjadi suatu lahan usaha yang menjanjikan. Di bidang lingkungan, misalnya sekarang bermunculan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang berbasis waste management (pengelolaan sampah).

Keberadaan pengusaha sampah bukan hal yang baru di Indonesia. Sejak dulu kita sudah mengenal pemulung, penampung dan pengumpul barang bekas. Namun sekarang, cakupan dan skala ekonomi pengusaha lingkungan ini makin membesar diiringi dengan makin tingginya knowledge content dan inovasi usahanya. Menurut penelitian, dari 100% sampah yang dihasilkan, 80% sampah masih dapat didaur ulang (recycle), 5% dapat digunakan ulang (reuse), 5% recoverable, sehingga sampah yang benar-benar harus dibuang hanya 10% saja. Artinya jika kita biasa menghasilkan sampah 10 kg/hari, maka yang benar-benar harus dibuang sebenarnya hanya 1 kg/hari. Dampaknya, lahan untuk tempat pembuangan akhir sampah akan berkurang sampai 90%. Stasiun Peralihan Akhir (SPA) Cakung Cilincing, di Jakarta Utara, misalnya dapat menjadi contoh bagaimana bisnis sampah dapat menimbulkan efek berantai yang sangat positif। Dengan mengelola 500 ton sampah per hari, bisnis ini mampu menyerap 250 pekerja। Sedangkan output industri ini yang berupa kompos, material untuk bahan baku semen menjadi input pabrik semen, dan bahan daur ulang seperti bijih plastik yang menjadi bahan baku pabrik plastic menciptakan economic value yang tidak sedikit. Dengan kata lain, industri persampahan semacam ini, merupakan implementasi dari konsep Industrial Ecology dimana terjadi suatu simbiosis mutualisma antara industri di sekitarnya dengan industri persampahan.

Dalam konsep Industrial Ecology, output byproduct berupa sampah/limbah (waste) dari suatu industri merupakan input raw material bagi industri lain, sehingga secara makro prinsip zero waste dapat diterapkan. Konsep ini meniru konsep jaring-jaring makanan (food net) dalam suatu ecosystem. Industrial ecology bersifat proactive, design- in (bukan added on), dan koordinatif. Dalam skala yang lebih advance, di Kalundborg, Denmark, satu kawasan Industrial Ecology telah coba diterapkan. Refinery Statoil menghasilkan gas yang dimanfaatkan oleh Pembangkit listrik Asnaes dan Gyproc, sedangkan steam dari Asnaes dimanfaatkan oleh Novo Nordisk. Prinsip yang sama juga diterapkan pada Tokyo Electric Power Company. Selain pada skala manufaktur, enviropreneurship juga tumbuh dari individual dan kemudian membesar menjadi suatu usaha komunal. Misalnya maraknya pengusaha kompos kering dari daur ulang sampah organik, dan kini muncul pula pengusaha kompos cair yang secara inovatif terus mencari cara baru memproduksi kompos. Ada pula pengusaha yang mencoba membuat plastik ramah lingkungan yang mudah terurai (biodegradable) berbahan baku ekstrak jagung dan penemuan lain yang berprinsip pada Design for Environment.

Bisnis lingkungan dilihat dari segi bussiness opportunity sangatlah prospektif. Tengoklah berapa banyak yang mau bermain di ceruk bisnis lingkungan, karena bisnis ini dipersepsikan bisnis kotor (harfiah, banyak orang yang langsung bergidik mendengar kata bisnis sampah, sebagian karena gengsi). Selain itu, pengetahuan tentang persampahan atau lingkungan belum menjadi ilmu yang umum (common knowledge) walau inipun bisa didapat dengan surfing di internet. Karena itu, envirobussiness merupakan niche tersendiri dalam dunia usaha. Masalahnya bukan mampu atau tidak mampu, melainkan mau atau tidak mau (karena perceived value tadi). Selain itu, walaupun bisnis ini “dijauhi” oleh banyak orang, demand dari produk hasil envirobusiness ini cukup tinggi. Katakanlah bijih plastik, bubur kertas, kaleng bekas, biogas, kompos, bahkan sampah yang tidak bisa direcover bisa dijadikan umpan untuk rotary kiln di industri semen seperti dijelaskan sebelumnya. Jika demand tinggi sedangkan supply minim, bisa dipastikan harga jual akan cukup kompetitif. Karena itu, kenapa tidak mulai dari sekarang kita menggarap ceruk bisnis ini.

Seperti kata iklan, kita untung, lingkungan untung…

No comments: