Wednesday, September 30, 2009

Indonesia Berduka (lagi)

Setelah baru saja dibulan ramadhan Jawa bagian barat diguncang gempa besar berkekuatan 7,2 skala Richter, giliran Sumatera Barat dikoyak gempa 7,6 skala richter. Diperkirakan ratusan jiwa tewas dan terus bertambah. Tentu saja ini mengundang keprihatinan bangsa yang begitu dalam.

Sebagai bangsa yang berada di lingkungan "ring of fire", di jalur patahan subduksi eurasia dan austronesia, resiko gempa adalah sesuatu yang merupakan keniscayaan. Dengan aktifitas gerakan lempeng 5 - 7 cm per tahun, energi yang tersimpan akibat tumbukan ini tentu cukup besar ketika dilepaskan dalam bentuk gempa.

Apa yang konsekuensi logis dari situasi seperti ini? Yang paling utama adalah kesiapsiagaan kita menghadapi gempa. Terlepas dari ketersediaan infrastruktur yang menjadi kewajiban pemerintah, pada tingkat masyarakat dan rumah tangga perlu ditanamkan emergency awareness sehingga jika terjadi gempa tidak perlu ada kepanikan yang berbuah jatuhnya korban akibat situasi panik.

Emergency awareness ini dapat berupa pengetahuan jalur jalur escape yang aman jika terjadi gempa, apa yang harus dilakukan jika berada di ruangan (berbaring disamping benda besar, menghindari barang mudah pecah, dsb), menentukan tempat berkumpul di luar ruangan untuk memudahkan koordinasi, menyiapkan peralatan P3K yang mudah dibawa dan upaya upaya lain.

Managemen bencana adalah hal krusial yang dapat meminimalkan jatuhnya korban dan mempercepat pertolongan yang dibutuhkan. Namun managemen bencana tidak dapat dilakukan tanpa persiapan, perencanaan, pengetahuan yang memadai. Ada baiknya kita mengadopsi sistem manajemen bencana milik Jepang yang juga merupakan daerah rawan gempa.

Dengan demikian, sebagai bangsa yang berada di daerah rawan gempa, kita akan selalu waspada dan terhindar dari kepanikan yang dapat menimbulkan korban baru.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments: