Banyak orang Jakarta dan sekitarnya beberapa pekan terakhir berteriak kesal kepada penyedia listrik karena adanya pemadaman bergilir. Siapapun yang mengalaminya tentu akan merasakan hal yang sama. Mengapa demikian? Banyak dari kita terutama di kota metropolitan, terbiasa dengan peralatan penunjang hidup berbasis listrik. Penyejuk ruangan, TV, lemari pendingin, dan bahkan kompor listrik. Spektrum peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik ternyata semakin meningkat.
Kita mendapatkan listrik dari pembangkit listrik milik negara yang sebagian diantaranya adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Pembangkit ini membutuhkan pasokan batubara untuk memproduksi uap air yang menggerakkan turbin. Menurut Blueprint Pengelolaan Energy Nasional, kontribusi batubara dalam aspek kelistrikan nasional akan terus meningkat dari 19% di tahun 2008 menjadi 35% di tahun 2025.
Batubara tampaknya sedang menjadi primadona untuk menopang produksi listrik di Indonesia. Namun tahukah anda bahwa, pembakaran batubara melepas 70% lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibanding gas alam (UNEP, 2008). Dengan kata lain batubara lebih mencemari lingkungan daripada gas alam.
Menghemat listrik dengan mematikan lampu, menggunakan jenis lampu yang hemat listrik, tidak hanya menghemat pengeluaran anda, namun juga menyelamatkan lingkungan kita. Dengan mengurangi beban listrik harian kita di rumah, maka pembangkit listrik tidak perlu bekerja terlalu berat yang pada akhirnya membutuhkan lebih banyak bahan bakar, yaitu batubara yang mengemisikan karbondioksida lebih banyak.
Konservasi energy sebenarnya hal yang tidak sulit, cukup dengan membiasakan diri dengan mengkonsumsi apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Karena apa yang diinginkan cenderung berlebihan (overwhelming), sehingga mengancam daya dukung lingkungan. Orang cenderung menyalakan lampu dengan sangat terang benderang walupun dengan hanya dengan satu atau dua lampu sudah cukup. Lebih banyak lagi orang yang membiarkan televisi, AC, atau kipas angin menyala padahal tidak ada yang menggunakannya. Orang cenderung menyalakan AC di bawah 20oC padahal cukup dengan kesejukan 25oC.
Jadi, mari kita lakukan konservasi energi mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga. Mulai dengan mematikan satu lampu setiap malam selama satu jam, menyetel AC di suhu 25oC. Matikan televisi jika tidak ditonton, dan sebagainya.
Sukseskan Earth Hour dengan mematikan satu lampu tanggal 27 Maret 2010 jam 8.30 malam waktu setempat.
Wednesday, November 11, 2009
Matikan Satu Lampu, Sayangi Bumi Kita
Banyak orang Jakarta dan sekitarnya beberapa pekan terakhir berteriak kesal kepada penyedia listrik karena adanya pemadaman bergilir. Siapapun yang mengalaminya tentu akan merasakan hal yang sama. Mengapa demikian? Banyak dari kita terutama di kota metropolitan, terbiasa dengan peralatan penunjang hidup berbasis listrik. Penyejuk ruangan, TV, lemari pendingin, dan bahkan kompor listrik. Spektrum peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik ternyata semakin meningkat.
Kita mendapatkan listrik dari pembangkit listrik milik negara yang sebagian diantaranya adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Pembangkit ini membutuhkan pasokan batubara untuk memproduksi uap air yang menggerakkan turbin. Menurut Blueprint Pengelolaan Energy Nasional, kontribusi batubara dalam aspek kelistrikan nasional akan terus meningkat dari 19% di tahun 2008 menjadi 35% di tahun 2025.
Batubara tampaknya sedang menjadi primadona untuk menopang produksi listrik di Indonesia. Namun tahukah anda bahwa, pembakaran batubara melepas 70% lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibanding gas alam (UNEP, 2008). Dengan kata lain batubara lebih mencemari lingkungan daripada gas alam.
Menghemat listrik dengan mematikan lampu, menggunakan jenis lampu yang hemat listrik, tidak hanya menghemat pengeluaran anda, namun juga menyelamatkan lingkungan kita. Dengan mengurangi beban listrik harian kita di rumah, maka pembangkit listrik tidak perlu bekerja terlalu berat yang pada akhirnya membutuhkan lebih banyak bahan bakar, yaitu batubara yang mengemisikan karbondioksida lebih banyak.
Konservasi energy sebenarnya hal yang tidak sulit, cukup dengan membiasakan diri dengan mengkonsumsi apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Karena apa yang diinginkan cenderung berlebihan (overwhelming), sehingga mengancam daya dukung lingkungan. Orang cenderung menyalakan lampu dengan sangat terang benderang walupun dengan hanya dengan satu atau dua lampu sudah cukup. Lebih banyak lagi orang yang membiarkan televisi, AC, atau kipas angin menyala padahal tidak ada yang menggunakannya. Orang cenderung menyalakan AC di bawah 20oC padahal cukup dengan kesejukan 25oC.
Jadi, mari kita lakukan konservasi energi mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga. Mulai dengan mematikan satu lampu setiap malam selama satu jam, menyetel AC di suhu 25oC. Matikan televisi jika tidak ditonton, dan sebagainya.
Sukseskan Earth Hour dengan mematikan satu lampu tanggal 27 Maret 2010 jam 8.30 malam waktu setempat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment