Buat apa mengeluarkan dana besar untuk sesuatu yang tidak memberikan keuntungan? Itu pertanyaan yang kerap dilontarkan para eksekutif perusahaan ketika dihadapkan pada proposal alokasi anggaran untuk pengelolaan lingkungan. Sampai saat ini memang masih banyak eksekutif yang menganggap masalah lingkungan adalah masalah additional (sampingan) yang tidak ada hubungannya dengan kinerja produktif perusahaan, sehingga akhirnya aspek lingkungan termarginalisasikan secara sistematis.
Dalam konteks ekonomi mikro, produktifitas dalam paradigma baru dilihat sebagai sejauhmana perusahaan mampu menjalankan proses produksi dengan efisien sehingga menimbulkan keuntungan finansial dan sekaligus menumbuhkan keuntungan tersebut secara berkelanjutan (sustainable growth).
Dilihat dari sudut pandang lingkungan suatu perusahaan dinilai mampu menjalankan proses produksinya secara efisien jika mampu menekan volume limbah yang dihasilkannya. Limbah adalah by product (sisa raw material dan bahan additive lain) dari suatu proses produksi. Artinya jika perusahaan mampu menekan limbahnya, maka perusahaan tersebut mampu menghemat bahan baku, bahan additive (chemical), penggunaan air, dan energi. Belum lagi penghematan dari pengelolaan limbah sebagai akibat penurunan volume limbah yang diolah.
Ilustrasi sederhana di atas menunjukkan benefit ekonomi dari integrasi aspek lingkungan ke dalam proses produksi. Benefit ekonomi lain adalah menghindari lost of opportunity akibat klaim lingkungan dari masyarakat atau kecelakaan yang terkait dengan limbah, tumpahan (spill) bahan berbahaya dan beracun (B3), cost reduction dari program penghematan konsumsi energi dan air, serta jaminan keberlangsungan proses produksi karena risk management yang sistematis terkait aspek lingkungan.
Pengalaman di berbagai negara menunjukkan, biaya pencegahan tumpahan limbah dan bahan berbahaya beracun (B3) jauh lebih murah dibanding biayapemulihannya, belum termasuk biaya yang ditimbulkan dari lost time incident dan biaya hilangnya bahan baku yang tumpah tersebut.
Untuk mencapai financial benefit dari pendekatan lingkungan ini, sejumlah alat bantu (tools) telah dikembangkan. Life cycle assessment (analisis daur hidup), pollution prevention, cleaner production, design for environment (DFE), industrial ecology, environment performance monitoring, dan environment accounting adalah beberapa di antaranya.
Enviromental accounting merupakan pendekatan praktis yang berupaya mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam proses produksi dengan besaran moneter sebagai indikator keberhasilannya. Selain dapat diaplikasikan pada tingkat korporat (mikro), konsep ini juga dapat diterapkan di tingkat negara (makro) yang lazim disebut Green GDP. Di samping manfaat ekonomi yang dapat langsung diukur dengan besaran moneter, keuntungan lain dari integrasi bisnis dan lingkungan adalah membaiknya image perusahaan, yang berdampak kemungkinan meluasnya kepercayaan customer (ditengah tren masyarakat yang semakin menjadi green consumer) dan pemerintah sebagai bisnis regulator.
Contoh paling sederhana yang ada di sekitar kita adalah sebuah bengkel motor yang telah menerapkan konsep cleaner service (modifikasi dari cleaner production). Di bengkel tersebut kita akan kesulitan untuk menemukan ceceran oil atau bahan hidrokarbon lain yang tertumpah di lantai atau di dinding, padahal pada umumnya image sebuah bengkel adalah lekat dengan tumpahan oli atau produk hidrokarbon lain. Semua sisa produk dan limbah dikelola dengan waste management yang sistematis dan ramah lingkungan. Pelanggan cenderung berlangganan bengkel yang nyaman seperti ini dibanding bengkel konvensional lain.
Pasar modern yang menjanjikan wisata belanja ala pasar tradisional (lengkap dengan tawar menawarnya) Namun dengan suasana yang teratur, bersih, bebas lalat, dan bebas bau merupakan trend yang terus berkembang segmen pasarnya. Pembeli dimanjakan dengan suasana yang menyenangkan yang tidak ditawarkan pasar tradisional yang becek dan bau. Pengelolaan lingkungan dan persampahan yang baik adalah kunci dari semua kisah sukses di atas.
Dua contoh sederhana di atas merupakan contoh nyata bagaimana pengelolaan lingkungan dan manajemen limbah yang baik akan mendatangkan keuntungan ekonomi dan pencitraan yang signifikan.
Jadi, siapa bilang mengelola lingkungan itu mahal?